Ketika saya pertama kali
bekerja sendiri sebagai pekerja paruh waktu, saya sangat kesulitan beradaptasi
dengan waktu. Saya terbiasa ada bos yang memberitahu apa yang harus saya
kerjakan kapan, dan saya tidak harus memikirkan jadual karena pekerjaan saya
mendikte alur kerja saya. Yang harus saya lakukan hanyalah datang ke kantor,
menenggelamkan kepala saya di meja kerja saya dan menyelesaikan semua To Do List saya.
Mengapa Mengikuti Sebuah Rutinitas:
Saya mendapati bekerja sendiri itu membuat frustrasi karena saya
selalu mempertanyakan, “Apakah saya melakukan hal yang benar sekarang? Apakah
saya menggunakan waktu saya dengan bijak?” Saya juga
benar-benar berhenti berolahraga dan mengerjakan tugas-tugas karena saya
pikir saya tidak punya waktu untuk semua itu. Saya benar-benar bekerja
sepanjang waktu. Akhirnya saya memutuskan untuk meninjau kembali rutinitas saya
untuk mencari tahu kemana saja perginya waktu saya, dan saya temukan bahwa saya
menghabiskan banyak waktu membuat keputusan apa yang akan dikerjakan, dan kapan.
Ini harus berubah, jadi saya mulai merencanakan hari-hari saya, termasuk
hal-hal yang benci saya lakukan, seperti berlari dan mencuci, dan hal-hal yang
senang saya kerjakan, seperti yoga dan belanja bulanan (aneh, saya tahu.)
Membuat katalog akan apa yang harus saya kerjakan dan membuatnya
menjadi sebuah rutinitas membebaskan saya dari menghabiskan waktu terhadap hal
yang benci saya kerjakan. Pada akhirnya juga membuat hal yang tidak suka saya
kerjakan menjadi jauh lebih mudah karena membuatnya selesai lebih cepat dan
secara rutin menjadi kebiasaan.
Inilah mengapa rutinitas ampuh bagi sebagian besar
orang:
1. Rutinitas mengeluarkan tahap pembuatan
keputusan dari proses.
Dr.
Heidi Grant Halvorson, seorang ilmuan sosial dan ahli tentang sukses (faktanya,
dia menulis sebuah buku , sepantasnya ”Sukses”) menjelaskan, “Rutinitas
menghilangkan berpikir yang terlalu lama terhadap apa yang harus dikerjakan dan
kapan (yang memakan waktu dan energi), karena sekalinya Anda sudah melakukan
sebuah rutinitas Anda sudah membuat keputusan.”
2. Rutinitas
membuat banyak pekerjaan berjalan secara
otomatis.
“Rutinitas
bisa menjadi sangat otomatis dimana kita mulai mengerjakannya tanpa
menyadarinya,” ujar Grant Halvorson,” jadi kita meyelesaikan apa yang harus
diselesaikan, bahkan ketika pikiran kita dipenuhi oleh hal-hal lain”.
3. Rutinitas Menghemat
Waktu.
Rutinitas
menghemat waktu dalam jangka pendek karena menghilangkan tahap berpikir yang terlalu
lama, dan juga menghemat waktu dalam jangka panjang karena rutinitas
mengotomatisasi pekerjaan-pekerjaan tersebut.
Beginilah cara kerjanya (menggunakan contoh yang sangat
sederhana):
Setiap kali Anda akan menyiapkan makan malam di meja, Anda
mendapati bak cuci piring penuh dengan piring-piring kotor. Sekarang Anda tidak
hanya harus menyiapkan makanan, Anda
harus menyingsingkan lengan baju untuk mencuci piring-piring tersebut,
mengosongkan bak cuci piring, dan menyikat bak cuci piring tersebut. Lalu Anda
harus menyelesikan tujuan utama Anda: menyiapkan makan malam.
Anda memutuskan bahwa itu sudah cukup dan menambahkan mencuci
piring ke dalam aktivitas rutin Anda . Ini termasuk memenuhi mesin pencuci
piring di malam hari dan mengosongkannya di pagi hari.
Keputusan telah dibuat! Setiap malam sesaat sebelum tidur, Anda
mengisi mesin pencuci piring, setiap pagi, tepat sebelum sarapan pagi, Anda
mengosongkannya. Ulangi.
Pada awalnya Anda harus mengingatkan diri Anda untuk memuat dan
mengosongkan, tapi setelah beberapa lama akan menjadi otomatis, membebaskan
otak Anda untuk memikirkan hal-hal lain yang lebih penting.
Berikutnya, kita akan membahas bagaimana membuat sebuah
rutinitas.

No comments:
Post a Comment